Perlukah Demam Berdarah Dirawat di Rumah Sakit

Beberapa kali dari pertemuan dengan pasien, teman dekat dan handai taulan, muncul pertanyaan seperti di atas. Apakah memang kasus demam berdarah dengue (DBD) dapat dirawat sendiri di rumah? Apa bahaya dan konsekuensinya kalau tidak masuk rumah sakit?

Kita tahu bahwa setiap penyakit memiliki karakteristiknya sendiri-sendui. Begitu juga dengan DBD. Karakteristik yang dimiliki masing masing penyakit membuatnya memiliki indikasi membutuhkan perawatan rumah sakit atau cukup berobat jalan saja.

Penyakit yang memerlukan perawatan rumah sakit sudah barang tentu membutuhkan fasilitas medis yang tidak mungkin dikerjakan sendiri di nunah seperti kalau sedang menghadapi kasus flu atau diare.

Bahwa ada kondisi tertentu, dengan cara memindahkan fasilitas medis sederhana ke runah, sehingga pasien dapat menempuh perawatan di runah, bisa saja terjadi. Home care kini banyak dilakukan untuk kasus menahun (kronis), misalnya. Dokter keluarga secara rutin berkunjung ke rumah pasien dengan penyakit menahun amok melakukan pemeriksaan rutin. Namun, ini jarang dapat dilakukan amok kasus dadakan dan tergolong berat.

Kasus DBD
DBD bertabiat khas. la datang mendadak, sering tanpa gejala nyata, serangannya sering membahayakan, dan tidak jarang membutuhkan bantuan kedaruratan medis. Betul tidak semua akan berakhir buruk. Namun, kemungkinan menjadi buruk tak mudah dideteksi atau diantisipasi secara medis hanya dengan melihat tanda dan gejala perjalanan penyakitnya belaka.

Kita tahu kalau setiap penyakit menempuh perjalanannya sendiri-sendiri. Ada penyakit infeksi, ada pula bukan penyakit infeksi. Demikian pula halnya dengan infeksi DBD. Pada semua kasus infeksi, perjalanan penyakit diawali dengan masa tunas (inkubasi), bibit penyakit mengacaukan tubuh, lalu terjadi pertempuran di dalam tubuh.

Orang menjadi jatuh sakit apabila tubuh kalah dalam pertempuran. Sebaliknya, jadi batal jatuh sakit jika tubuh memenangkan pertempurannya melawan bibit penyakit. Itu maka memang tidak setiap tubuh yang dimasuki bibit penyakit pasti selalu akan jatuh sakit. Hal itu ditentukan oleh ketahanan tubuh masing-masing orang.

Ketahanan tubuh ditentukan oleh sistem imunitas pribadi. Sistem imunitas sendiri terbentuk sejak bayi yang sebagian diwariskan dari ibu, selain oleh imunisasi (aktif) sebagai fondasi kekebalan tubuh. Semakin lengkap dan sempurna vaksinasi diberikan, semakin kokoh benteng pertahanan tubuh.

Namun, tidak semua bibit penyakit yang ada di alam, ada cara untuk mengebalkannya. Belum ada vaksin untuk herpes, flu burung, atau DBD, misalnya, sehingga orang belum mungkin bisa terbebas dari ancaman ketiga jenis virus ini.

Lalu, bagaimana menangkalnya agar tidak sampai dibuatnya jatuh sakit?

Dengan memotong rantai penularannya. Untuk itu harus mengenali bagaimana suatu penyakit infeksi menular. Penularan sendiri ada yang melalui mulut (makanan-minuman tercemar), melalui udara (air-borne), melalui persinggungan langsung dengan pasien, atau lewat gigitan serangga, hewan, selain tertular oleh penyakit bukan milk manusia (zoonosis).

DBD disebabkan oleh virus dengue yang dalam peijalanannya harus melalui tubuh nyamuk Aedes aegyptL Setelah berproses di dalam tubuh nyamuk, virus baru memasuki tubuh manusia.

Oleh karena virus dengue tidak tampak dan sukar dilacak keberadaannya, upaya tepat mencegah DBD ditempuh hanya dengan cara meniadakan nyamuk pembawa virusnya. Bisa menekan populasi nyamuk dengan membasmi bayi nyamuk paiva) memakai larvicide (abate), selain perlu pula membunuh nyamuk dewasa dengan pengasapan (fogging).

Apabila program abatisasi (pembubuhan abate ke wadah air jernih tergenang di rumah) dan fogging kurang berjalan, upaya pencegahan DBD tidak akan berhasil dan penyakit DBD merajalela. Abatisasi khususnya di wilayah endemik langganan penyakit tahunan) dilakukan sebelum muncul kasus, yakni menjelang dan sewaktu musim penghujan, sedangkan fogging hanya dikerjakan bila sudah muncul kasus.

Gejala Tak Nyata
Sebagaimana rata-rata penyakit lain, gejala DBD juga sering tak nyata, bahkan oleh penglihatan medis sekalipun. Tak cukup hanya dengan melihat gejala klinis belaka karena belum tentu tanda perdarahan kulit (ptechiae, lebam) atau muntah darah, berak darah, selalu muncul pada setiap kasus. Sering-sering hanya demam belaka. Dan ini susahnya.

Banyak kasus DBD hanya menyerupai flu belaka. Tiba-tiba demam, nyeri kepala, badan ngilu, lemas, dan terasa tidak enak sekali. Mungkin disertai mual dan ingin muntah. Sampai di sini tidak ada bedanya dengan kasus flu.

Setelah perjalanan penyakit lebih lanjut, mungkin dokter baru akan meraba hati membengkak. Namun, tanda ini pun bukan hanya milk DBD. Pada tifus juga bisa seperti itu.

Cara satu-satunya untuk mengendus kemungkinan DBD agai tidak sampai kecolfgan, ditempuh dengan cara pemeriksaan laboratorium darah. Sekurang-kurangnya menghitung sel pembeku darah (trombosit), Hb (hemoglobin), sel darah putih (leukosit), dan sel muda Ht (hematosit). Dari gambaran hasil pemeriksaan darah itu paling tidak bisa muncul kecurigaan atau bahkan sudah jelas keberadaan penyakitnya.

Kapan Periksa?
Pada keadaan endemik DBD, di wilayah langganan terjangkit DBD, setiap kasus demam harus dicurigai sebagai DBD. Proses penyakit DBD berjalan cepat. Dari semula hanya demam saja, dalam hitungan hari bisa mendadak syok kalau virusnya 'ganas' dan atau kondisi tubuh pasiennya rentan terkena.

Namun, bisa terjadi ketika darah diperiksa, penyakit masih di awal-awal, sehingga belum menunjukkan hasil darah yang menimbulkan kecurigaan DBD. Belum tampak perubahan darah yang bermakna untuk menuduh kalau itu suatu DBD. Itu maka, pemeriksaan darah perlu dilakukan berulang, mungkin selang waktu setengah hari.

Begitu terlihat ada perubahan basil darah yang mengarah ke DBD. bisa disimnulkan kalau itu kasus DBD. Trombosit, Hb, dan leukosit menurun, dan Ht meningkat, ini hasil yang spesifik pada kasus DBD. Lebih nyata lagi bila pemeriksaan imunoglobulin spesifik untuk dengue (IgM, IgG) juga positif, sehingga kehadiran DBD tak dapat disangkal lagi.

Jadi tidak salah apabila sedang berjangkit DBD, apalagi di wilayah endemik atau ada tetangga yang sudah terkena DBD, gejala flu saja sudah harus dicurigai sebagai DBD. Sebab, sering perjalanan penyakit bisa langsung menjadi berat atau tak terduga.

Antisipasi Syok
Salah satu bahaya serangan DBD adlah kalau sempat muncul syok atau renjatan. Syok terjadi bisa karena tipe virus yang menyerangnya tergolong ganas, sehingga perjalanan penyakitnya langsung potong kompas masuk ke dalam kondisi syok.

Sebagian kecil kasus DBD memasuki status yang berat (dengue shock syndrome). Keadaan ini bukan saja memerlukan pertolongan rumah sakit, melainkan juga perawatan intensif karena lekas sekali merenggut nyawa kalau terlambat ditolong.

Syok juga dapat terjadi apabila kasus DBD yang bukan tergolong syok terlambat mendapat perawatan. Semakin lama penyakit berlangsung di dalam tubuh tanpa pertolongan semestinya, semakin banyak cairan tubuh yang berpindah keluar dari pembuluh darah (merembas).

Akibatnya, terjadi kekurangan cairan dalam darah yang perlu secara dikoreksi dengan ekstra minum, agar tidak jatuh syok.

Perlu Banyak Minum
Kematian pada kasus DBD lantaran syok tak terangkat. Untuk mengantisipasi ancaman kekurangan cairan tubuh, pada kasus demam dengan kecurigaan DBD, sebaiknya pasien diberi minum lebih banyak, selain lebih sering. Tujuannya, sekiranya benar itu kasus DBD, tubuh sudah diberikan cadangan cairan yang tidak lekas sampai kekurangan, sehingga ancaman terjadinya syok bisa lebih diulur.

Namun, kita tidak bisa menilai hanya dari luar saja kalau penyakit DBD sudah mengganas di dalam tubuh. Kita tahu, penyakit DBD berlangsung sengit di dalam tubuh. Dan itu peristiwa imunologis dalam darah. Semakin sengit pertempuran, semakin luas kerusakan pembuluh darah terjadi serta akibat yang ditimbulkannya.

Kebocoran Binding pembuluh darah yang luas Ban merata membutuhkan lebih banyak sel pembeku trombosit untuk menambalnya. Tingkat penurunan trombosit mencerrninkan luasnya kerusakan pembuluh darah tubuh yang terjadi. Keadaan ini hanya dapat dikoreksi dengan penambahan cairan, dan pada saatnya nanti, mungkin diperlukan juga transfusi darah (trombosit).

Oleh karena variabel suatu kasus DBD untuk jatuh syok ada beberapa, memang tidak mudah meramalkan akan bagaimana status pasien dalam hitungan dart jam ke jam karena itu semua merupakan proses di dalam tubuh.

Tidak semua gejala perdarahan terlihat dari luar. Tidak semua kasus DBD khas ada bintik-bintik merah. Yang tidak berbintik merah, mungkin saja sudah terjadi perdarahan di hati, jantung, ginjal, atau organ tubuh lainnya.

Bila perdarahan berlangsung di organ dalaman tubuh, tidak terlihat bagaimana besar perdarahan yang mungkin sudah berlangsung di dalam organ-organ dalam tubuh, seberapa luas, seberapa banyak, kecuali memonitornya dari pemeriksaan darah berkala setiap beberapa jam sekali yang tampak cenderung terus memburuk. Kuncinya memang melakukan pemeriksaan darah dari waktu ke waktu.

Terus Dimonitor
Untuk alasan itulah kasus DBD yang di penglihatan dokter menampakkan kondisi yang memburuk, menjadi salah satu indikasi suatu kasus DBD untuk dirawat di rumah sakit. Seberapa cepat hasil darah memburuk, dan seberapa lekas kondisi pasien memburuk, dokterlah yang dapat melakukan analisis.

Analisis juga harus dipantau dari tanda bakal munculnya syok, sehingga tekanan darah, tekanan nadi (selisih sistolik dan diastolik), dan hitung nadi menjadi penting untuk dimonitor terus. Untuk itu juga memerlukan kompetensi rumah sakit. Ada saat-saat selama pemantauan perlu diambil keputusan kapan pasien memerlukan perawatan intensif, yang bisa datang cepat dan dadakan.

Bagi yang memiliki dokter keluarga (family doctor), lebih bisa menunggu (menunda) saat yang tepat kapan pasien DBD perlu dirujuk ke rumah sakit dan kapan cukup dirawat di rumah saja dengan catatan. Catatan untuk melakukan pemantauan sendiri di rumah dengan melakukan pemonitoran tekanan darah dan nadi dan waktu ke waktu dan terus memberi banyak minum. Sebaiknya minuman sejenis oralit.

Adakalanya kasus DBD memang cukup dirawat di rumah saja. Jika tergolong ringan atau kasus demam lima hari (dengue fever) belaka dan belum masuk ke kasus DBD (dengue hemorhagic feuer), perawatan sendiri di rumah saja sudah memadai.

2 Responses to "Perlukah Demam Berdarah Dirawat di Rumah Sakit"

  1. satu minggu yang lewat saya terserang DBD sekarang saya sudah keluar dari rumah sakit yang mau saya tanyakan
    1. kenapa kondisi tubuh saya belum vip
    2. terjadi pembengkakan kelenjar di ketiak, paha, leher
    3. obat apa yang akan saya minum agar kondisi saya vip kembali

    BalasHapus

Berlangganan

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Blog Keperawatan di Facebook

Followers